-->

Jumat, 28 Juni 2019

Menjaga Pikiran yang Senantiasa Disibukan dengan Perkara Akhirat

Jakarta, Aktual.com – Dalam Kajian Tasawuf Kitab Al-Anwaru Al-Qudsiyah Syarh Al-Wasiyah As-Shiddiqiyah, di Zawiyah Arraudhah Tebet Selasa 25 Juni 2019 / 21 Syawal 1440, Syekh Muhammad Danial Nafis hafizhahullah menjelaskan bahwa diantara ciri ilmu yang bermanfaat (علم نافع) adalah pikiran yang senantiasa disibukkan dengan perkara-perkara akhirat.

Jikalau orang tersebut tidak memandang dunia ini kecuali sebatas hamparan ladang tempat dirinya bercocok tanam amal kebaikan yang setiap hasilnya akan ia tuai di akhirat kelak.


Selain itu Syekh Nafis menjelaskan, jika pikiran kita harus senantiasa disibukkan dengan akhirat yang kekal dan janji-janji Allah Swt yang pasti, sehingga cinta kepada Allah Swt semakin tumbuh di dalam sanubari di iringi dengan buah-buah ketaatan yang tulus kepada-Nya.

Dan ini akan menjadikan kita rela meninggalkan segala kenikmatan dunia yang fana ini, dan kita tidak akan mencicipi kelezatan-kelezatannya yang sementara kecuali atas tuntutan ibadah dan rasa Syukur kepada Allah Swt

Bahkan menurut Syekh, salah satunya tafakkur yang harus disertai dengan Dzikir dan Ilmu yang benar agar dapat menumbuhkan rasa cemas dan harap (الخوف و الرجاء) kepada Allah yang berkaitan erat dengan maqom kecintaan (المحبة) .

“Seseorang yang hatinya dipenuhi mahabbah kepada Allah Swt, baginya tidak akan ada perbedaan antara nikmat dan musibah, antara emas dan tanah, karena ia hanya memandang Sang Pemberi anugerah itu sendiri yakni Allah Swt,” katanya.

“Bahkan ia meyakini bahwa segala yang datang dari Allah Swt berupa kebahagiaan dan kesedihan, kecukupan dan kekurangan, tidak lain adalah untuk mendidik dan menjadikannya hamba/abdun yang sejati.

Dirinya hanya sibuk memikirkan masa depan akhiratnya, apakah ia akan bertemu dengan kekasih yang dicintainya/Allah Swt kelak?” tambahnya.

Seperti inilah berpikirnya Rasulullah Saw sebagaimana di katakan Sayidina Ali as. dalam sebuah riwayat :

و أما تفكيره ففيما يبقى ولا يفنى

Artinya: “Adapun berpikirnya Rasulullah saw adalah terhadap sesuatu yang kekal (Akhirat) , bukan sesuatu yang fana (Dunia)”

Mengapa Rasulullah Saw masih memikirkan akhiratnya ? padahal beliau adalah kekasih yang paling dicintai oleh Allah ta’ala ? ketahuilah bahwa beliau memikirkan masa depan umatnya, bagaimana keadaan umatnya sepeninggal beliau dan di akhirat kelak.

Maka sudah seharusnya kita menyambut cinta beliau dan meneladaninya dengan sibuk memikirkan perkara akhlak - akhirat kita.

Dari sini kita bisa memahami bahwa pada hakikatnya cinta yang tertanam dalam hati seorang hamba adalah semata-mata karena cinta Allah Swt kepadanya yang sudah terdahulu.

Begitu juga dengan cinta kita kepada Rasulullah saw. adalah karena cinta beliau telah mendahului kita namun kebanyakan kita tidak merawat benih-benih cinta itu sehingga tidak tumbuh subur di dalam hati kita bahkan membiarkannya mati.

Maka kadar besar / kecil kecintaan Allah ta’ala kepadamu adalah korelatif dengan sikap kadar kebencianmu terhadap dunia/makhluk dan sebrapa besar usahamu (ubudiyah) untuk mentaati segala perintah-Nya.

Dan kadar kecintaan Rasulullah saw kepadamu adalah seberapa besar kadar kerinduanmu kepadanya dan kadar usahamu dalam mengikuti sunnah-sunnahnya yang mulia.

Shollalahu alaihi wa aalihi wa sohbihi wa sallam.

Wallahu ‘Alam

Disarikan Oleh :
As’ad Syamsul Abidin
Di Edit Oleh :
Andy Abdul Hamid

Sumber :

https://www.aktual.com/menjaga-pikiran-yang-senantiasa-disibukan-dengan-perkara-akhirat/

Jatman adalah singkatan dari Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabarah An Nahdliyyah merupakan organisasi keagamaan sebagai wadah pengamal ajaran Thoriqoh.

HUBUNGI KAMI MELALUI WHATSAPP

Contact Us
JATMAN DKI
+62 812-1255-9877
DKI Jakarta, Indonesia