JAM'IYYAH AHLITH THORIQOH AL-MU'TABAROH AN-NAHDLIYYAH

IDAROH WUSTHO

image
Tentang,

SEJARAH SINGKAT JATMAN

Jami’iyyah Ahlith-Thariqah Al Mu’tabarah An-Nahdliyyiah, disingkat menjadi (JATMAN), merupakan organisasi keagamaan sebagai wadah pengamal ajaran Thoriqoh Al Mu’tabarah, yang menjadi Badan Otonom Organisasi Nahdlatul Ulama dan merupakan salah satu pilar dari ajaran Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah yang telah dirintis dan dikembangkan oleh para salafusshalihin yang bersumber dari Rasulullah SAW, Malaikat Jibril AS dan petunjuk Allah SWT dengan sanad yang muttasil. Jatman secara khusus bertugas mengawasi thariqoh-thariqoh mu’tabaroh yang berkembang di Indonesia.

JATMAN berazaskan Islam Ala Ahlussunnah wal Jama’ah dengan menganut salah satu dari madzhab 4 : Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam Fiqih, menganut ajaran Al Asy’ariyyah dan Maturidiyah dalam bidang aqidah dan menganut faham Al Khusyairi, Hasan Al Basri, Juned Al Baghdadi dan Al Ghazali dan sesamanya dalam bidang Tasawuf/Thoriqoh.

JATMAN merupakan salah satu Badan Otonom (BANOM) Nahdlatul Ulama diantara 12 Banom lainnya, yang berfungsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama pada pengikut Thariqah yang Mu’tabarah di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Nahdlatul Ulama mempunyai 3 (tiga) perangkat organisasi yaitu Lembaga, Lajnah dan Badan otonom. Masing-masing perangkat organisasi mempunyai beberapa organiasi. Lembaga membidangi 16 organisasi, Lajnah membidangi 2 organisasi dan Banom membidangi 12 organisasi.

JATMAN didirikan pada tanggal 20 Robi’ul Awal 1377 H, bertepatan dengan tanggal 10 Oktober 1957 M, di Ponpes Tegalrejo Magelang, Jawa Timur, dan disahkan dalam Muktamar Nahdlatul Ulama XXVI di Semarang, bulan Rajab 1399 H, bertepatan dengan bulan Juni 1979 M, sebagai Badan Otonom Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, dengan Surat Keputusan PBNU Nomor : 137/Syur.PB/V/1980.

SUSUNAN PENGURUS JATMAN DKI JAKARTA

Masa Hitmah 2017-2022



VISI DAN MISI

(Vision And Mission)

Visi Jatman adalah:

Berkumpulnya Pengamal Thariqah berhaluan Ahlusunnah wal Jamaah dengan menganut salah satu dari 4 madzab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) dalam bidang Fiqih dan menganut ajaran Asy’ariyah dalam bidang Aqidah.



Misi Jatman adalah:

1. Membentuk manusia seutuhnya lahir dan batin yang dapat mengembangkan serta merasa dilihat oleh Allah atas dirinya sehingga memiliki rasa al-Khauf; ar-Raja; as-Shidiq, al-Mahabbah, al-Wara’; az-Zuhud, as-Syukur, as- Shabar, al-Khaya’ dan al-Khusu’ (tidak semata-mata bentuk amaliah bacaan atau dzikir untuk mencari pahala).

2. Mengucapkan berlakunya syariat Islam ala Ahlussunah wal Jamaah secara konsisten dalam bidang Syariah, Thariqah, Hakikat dan Ma’rifat.

3. Menyebar luaskan dan mengembangkan ajaran Thariqah al-Mu’tabarah al-Nadhliyah melalui kegiatan khususiyah, thariqiyah/tawajjuhan

4. Meningkatkan, mengembangkan, mempercepat, mempergiat dan memelihara ukhuwah Thariqiyah Nahdliyah sesame pengamal tarekat melalui sikap taysamuh antara aliran tarekat.

5. Meningkatkan ilmu nafi’ dana mal saleh dohir dan batin menurut ukama’ shalihin dengan bai’at yang shahih.

Kegiatan

(Poster Kegiatan)


Girl in a jacket Girl in a jacket

JARINGAN JATMAN DKI JAKARTA

TQN INDRAMAYU
TQN INDRAMAYU

KAPUK CENGKARENG JAKARTA BARAT

Girl in a jacket
ZAWIYAH ARRAUDHAH

Jl. Tebet Barat VIII No. 50 Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Girl in a jacket
Naqshbandiyya Nazimiyya

Jalan Warung Jati Barat No.9C RT.012/09 Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan 12740

Girl in a jacket
Naqsyabandie Generation

Girl in a jacket
Pesantren Akmaliah Salafiyah

Jl. Akmaliah No.9, RT.6/RW.2, Klp. Dua Wetan, Ciracas, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13730

Girl in a jacket
Tarekat Syadziliyah Darqawiyyah

Berita Kegiatan JatmanDKI

Syaikh Husain Asy-Syadziliy Ad-Darqawi wafat

 


اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ 


IDAROH WUSTHO  JATMAN DKI JAKARTA

Turut mengucapkan belasungkawa dan berduka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya Almaghfurllah 


Syaikh Husain Asy-Syadziliy Ad-Darqawi


Selasa 10 Dzulhijjah 1442H/20 Juli 2021 Pukul 13:00 WIB


Mursyid Thariqah Syadziliyah Darqawiyah & Anggota Majelis Ifta Idaroh Wustho JATMAN DKI Jakarta.


Semoga Allah SWT menerima amal shalih beliau dan ditempatkan bersama para kekasih-Nya. 


يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً 

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي 

وَادْخُلِي جَنَّتِي 


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ  وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ ، وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّار 


اَللّٰهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلَاِ خْوَا نِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَااِنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْمٌ 


اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَه رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجِنَانِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَه حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِيْرانِ 


له الفاتحة :

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ - ١

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ - ٢

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ - ٣

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ - ٤

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ - ٥

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ - ٦

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ - ٧

Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H

 


Segenap pengurus JATMAN Idaroh Wustho DKI Jakarta mengucapkan :

Selamat Hari Raya Idul Adha
10 Dzulhijjah 1442 H.

Mari kita kuatkan ketaatan, menuju keshalihan hakiki, dalam iman dan ma'rifat. Ingat pula untuk tetap menjaga imunitas ruhani dengan dzikir.

#JatmanDKI #Jatman #IdulAdha1442H

MENGENAL SOSOK SANG IMAM, SAYYIDI MUHAMMAD IBN ASH-SHIDDIQ AL-GHUMARI (BAGIAN 3)

 

Dan beliau mengambil baiat tarekat Syadziliyah Darqowiyah dari gurunya yaitu al ‘Arif billah Sheikh Assayyid Muhammad Bin Ibrahim Al-Fassi (seorang ulama besar yang makamnya di zawiyah Fez), beliau tinggal bersamanya untuk menghadiri pengajian dan mendalami suluk thariqahnya selama tiga tahun.


Beliau adalah sosok yang senantiasa menganjurkan untuk mengamalkan Alquran dan sunah, serta mengambil dalil dari keduanya tanpa melihat pendapat yang bertentangan terhadap keduanya walau datang dari tokoh mazhab yang terkenal sekalipun.


Beliau adalah sosok yang senantiasa menyeru kepada ijtihad dan meninggalkan taqlid. Mendebat para pembesar fuqaha di masanya dan beradu argumen dengan mereka.


Beliau adalah sosok yang berusaha mendapatkan buku walau dengan harga yang amat mahal.


Beliau adalah sosok yang benci untuk berbicara selain dengan bahasa Arab, bahasa Alquran, sunah, dan penduduk surga.


Beliau adalah sosok yang menghormati dan memuliakan para pemilik ilmu dan para guru. Juga para penghafal Alquran dan para pengajarnya.


Beliau adalah sosok yang cinta pada Ahlul Bait. Orang-orang yang disifati oleh Rasulullah SAW sebagai bahtera Nuh.


Cinta tulus tanpa memandang kebaikan, ilmu, kedudukan, dan takwa yang ada pada mereka. Murni karena perintah Allah SWT.


Al Imam Al Akbar Asy Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari Qs mendirikan Zawiyah Ash Shiddiqiyyah di atas tanah hibah yang diberikan oleh Sultan Abdul Aziz, Raja Maroko, pada tahun 1319 H.


Selain mendirikan Zawiya Ash Shiddiqiyyah, beliau juga membangun cabang zawiyah di Boesela dan Larache. Adapun zawiyah di kota Fez didirikan oleh al arif al kabir Sidi Muhammad Ayub murid dari kakek beliau yaitu Sayyid Ahmad sebagai persembahan untuk gurunya dan para pengikut atau murid-muridnya di kemudian hari.


Dan zawiyah Shiddiqiyyah di Tetouan didirikan oleh para murid ayahanda beliau Sayyidi al Haj Shiddiq al Ghumari, dan untuk pembangunan Zawiyah di Salé pembelian tanahnya sudah terlaksana pada masa beliau akan tetapi untuk pembangunannya baru terealisasi setelah beliau wafat. Sedangkan zawiyah di Zair dibangun pada masa putranya yaitu Sayyidi Ahmad Bin Shiddiq.


Beliau dikaruniai 8 putra, semuanya laki laki dan semuanya menjadi ulama besar, mereka adalah: Sayid Ahmad, Sayid Abdullah, Sayid Muhammad Zamzami, Sayid Abdul Hay, Sayid Abdul Aziz, Sayid Hassan, Sayid Murtadho dan Sayid Ibrahim.


Al Imam Al Akbar Asy Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari Qs beliau dikenal memiliki murid- murid yang sangat banyak. Bahkan dari murid-muridnya banyak yang menjadi ulama besar.


Diantara murid-muridnya yang mengais ilmu pada beliau telah menjadi ulama besar, seperti: al Faqih al allamah al  Arabi Abu Ayad mantan khatib zawiyah shiddiqiyyah, al allamah  al Faqih alArabi ibnu al Mubarak al-Abadi, Al-Faqih al Arabi Tlemceni yang merupakan seorang qhodli atau hakim Tangier, al Faqih al allamah al qhodli Ahmed Bouzid, al Faqih al-Hashimi al khulwi, al Faqih al adib Ayashi Sekerj, Al-Faqih Muhammad al-Haj Sadiq, Al-Faqih Muhammad al-Haj Ghumari.


Untuk diketahui, dari hampir setiap murid atau masyarakat lain yang pernah menghadiri pengajian beliau, rata-rata merasakan mendapat bimbingan apa yang telah diberikan oleh beliau.


Pada suatu saat seorang ulama ahli fiqh, Syekh al Faqih Ahmad Buhisain meerima pelajaran seputar ilmu-ilmu keislaman dari beliau di Tangier, kemudian berpamitan kepada beliau untuk pergi  ke Fez karena akan menyelesaikan studinya di sana.


Empat bulan kemudian ia kembali ke Tangier, lalu beliau bertanya kepadanya: “kenapa kamukembali lagi kesini?” ia menjawab :”wahai tuanku, ternyata orang yang pernah berguru kepadamu tidak akan terpuaskan oleh pengajaran guru yang lain”.


Padahal di Fez terdapat banyak para ulama termasuk guru-guru beliau. Beliau sendiri tidak pernah mengambil tugas atau peran jabatan apa pun di pemerintahan, bahkan sering melarang untuk berperan di pemerintahan.


Karena berperan aktif di dalamnya sama saja dengan membantu para penjajah, murid murid yang terlibat dalam tugas atau jabatan qhadli atau hakim pengadilan pun beliau kecam dengan keras (agar mengundurkan diri) karena fitnah atau kehancuran sudah terlanjur mewabah di kalangan para hakim pengadilan.

MENGENAL SOSOK SANG IMAM, SAYYIDI MUHAMMAD IBN ASH-SHIDDIQ AL-GHUMARI (BAGIAN 2)

 

Dalam biografi yang ditulis Sheikh Abu Al Fadl Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari yang merupakan putra al Imam al Akbar Asy Syekh Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari ra mengatakan bahwa sifat beliau yang pemberani sangat tampak ketika menjelaskan kitab Sahih Bukhari dimana beliau selalu mengecam atau menentang kolonialisme dan mengajak umat untuk berjihad melawan orang orang kafir.

Dalam mengajak umat ke jalan Allah SWT beliau tidak mengenal rasa takut atas ancaman siapapun, hingga tersiar kabar bahwa penjajah Perancis benar benar akan segera menangkap beliau.

Meskipun terror dari penjajah terus bergulir untuk menakut nakutinya Namun selamanya beliau tak pernah tertinggal atau terhalang untuk terus mengisi pengajian pengajiannya dan tetap mengecam penjajahan bahkan semakin vokal dalam menyuarakan kecamannya atas kolonialisme.

Meskipun demikian penjajah Perancis tidak mampu menyentuhnya sama sekali apalagi menangkapnya.

Dan diantara keberanian beliau, bahwasanya suatu saat ia diundang untuk menghadiri Konferensi Khilafah yang diadakan di Al- Azhar (Mesir) yang diketuai oleh syekh Abu al Fadl al Gizawi selaku grand syekh al Azhar.

Dari Maroko, selain beliau diundang pula dua ulama yang lainnya namun kedua ulama tersebut tidak dapat menghadirinya karena mendapat larangan bepergian dari penjajah Perancis.

Namun beliau malah dipersilahkan untuk menghadap pejabat perwakilan kerajaan (orang Maroko) yang berada di Tangier, lalu beliau meminta kepada pejabat tersebut sebuah paspor atau surat izin perjalanan ke Mesir tanpa gambar.

Pejabat kerajaan Maroko berkata:” ini tidak mungkin.,” beliau pun berkata: “Saya akan tetap pergi walaupun tanpa paspor” lalu seorang intelejen Perancis di Tangier menjelaskan: “Jika Anda pergi tanpa paspor, maka kamu akan di deportasi dari Mesir oleh pihak inggris” beliau pun menjawab lagi: “tidak ada hubungannya urusan tersebut dengan kalian!”.

Kemudian pejabat perwakilan kerajaan mempertimbangkan kembali urusan beliau dan memberi iqamah atau visa kepada beliau untuk bisa tinggal di Rabat agar mereka dapat menelaah apa yang mereka lihat selama beliau tinggal di Rabat, dan setelah mereka meninjau selama dua bulan.

Mereka memutuskan untuk memberinya paspor tanpa gambar seperti yang beliau pinta.

Beliau adalah orang yang paling alim di zamannya, di Maroko tidak ada seorang pun yang berani bersebrangan atau menentang fatwanya. Dan dari sekian banyak pertanyaan yang dilayangkan kepada beliau pun datang dari masyarakat seluruh pelosok Maroko bahkan Aljazair.

Dan beliau biasa berfatwa dengan madzhab yang empat, meskipun ia telah mencapai derajat mujtahid yang mampu berijtihad sendiri menggunakan suatu dalil sesuai arah pendapatnya di Maroko beliau sangat berjasa dalam menghidupkan kembali ajaran sunnah sunnah Nabi SAW yang sudah yang lama padam.

Diantaranya adalah sunnah sunnah didalam shalat seperti: meletakan satu tangan diatas tangan yang lain, membaca ta’awudz dan basmalah pada rakaat pertama, mengangkat kedua tangan saat hendak ruku dan itidal, mengucap salam di akhir shalat dan lain sebagainya.

Ketika menghadiri muktamar atau konferensi di Mesir, beliau berkumpul bersama para ulama besar di sana seperti Sheikh Bakhit Mufti Mesir, Sheikh Muhammad Samaluti, Syekh Yusuf Asyibranjumi, Sheikh Abdul Majid Sharnouby, Sayyid Ahmad Rafi Tahtawy dan para ulama sepuh lainnya.

Mereka (para ulama besar di Mesir) mengakui keilmuan dan kelebihan beliau dan mengundangnya ke rumah mereka bahkan ada pula beberapa dari mereka (ulama Mesir) yang menawarkan diri untuk menemani beliau selama perjalanan namun beliau menolaknya dengan sikap tawadhu.

Beliau meninggalkan kenangan yang sangat berkesan di hati para ulama Mesir dari berbagai kalangan atau penganut madzhab yang berbeda beda. Seandainya beliau gemar bepergian ke luar daerah untuk menyebarkan thariqahnya seperti yang dilakukan ulama lain, pasti beliau mempunyai pengikut atau murid yang banyak, namun beliau tidak melakukannya.

Lanjut Ke Bagian 3

Mengenal Sosok Sang Imam, Sayyidi Muhammad ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari (Bagian 1)

Sheikh Abu Al Fadl Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari yang merupakan putra al Imam al Akbar Asy Syekh Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari ra menulis biografi atau riwayat hidup seorang ulama ahli hadist/muhaddist dari negeri Maroko yang merupakan pendiri dari thariqat Shiddiqiyah Syadziliyah.

Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari al-Hasani masih dari garis keturunan maulana Idris putra pertama dari Abdullah Ibn al Kamil putra dari al Hassan al-Mutsanna putra sayyidina Hasan Mujtaba putra Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.

Syekh Muhammad bin Shiddiq al Ghumari lahir pada tahun 1295 H dan diberi nama oleh ayahnya dengan nama “Muhammad al Manshur” sebuah nama yang membawa keberkahan dan pengaruh baginya. Dimana semasa hidupnya beliau Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari al-Hasani selalu manshur (menang/mendapat pertolongan) dari setiap musuh dan lawan-lawannya.

Beliau Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari al-Hasani adalah penghafal Alquran dengan dua riwayat yaitu riwayat Warsy dan Hafs, ketika ayahnya al ‘Arif billah Sayyidi al Hajj Shiddiq ingin mengajarinya ilmu qiraat.

Ia sendiri mendapat petunjuk dari salah seorang ulama yang shaleh agar ia mengirimkannya ke kota Fez untuk menimba ilmu dan menghadiri majelis talaqidi Universitas al Qarawein. Di tempat itulah beliau mengaji atau berguru kepada banyak para ulama sepuh yang shaleh diantaranya adalah Syekh Sayyid Jafar al kattani.

Dan beliau mengambil baiat tarekat Syadziliyah Darqowiyah dari gurunya yaitu al ‘Arif billah Sheikh Assayyid Muhammad Bin Ibrahim Al-Fassi (seorang ulama besar yang makamnya di zawiyah Fez), beliau tinggal bersamanya untuk menghadiri pengajian dan mendalami suluk thariqahnya selama tiga tahun.

Kemudian ia kembali ke kampung halamannya dan pergi ke Tangier dengan maksud hendak melamar seorang gadis yang tak lain adalah putri dari pamannya sendiri yaitu al Arif Sidi Abdul Hafidz bin Ahmad bin Ahmad bin ‘Ajibah dan mendapatkan persetujuan atas pernikahannya dengan syarat ia harus mukim atau tinggal di Tangier.

Beliau pun menetap disana dan menyebarkan thariqah dan menghidupkan pasar keilmuan paska melemahnya tradisi keilmuan di kampung tersebut.

Ia pun mengajar kitab Sahih Bukhari di Masjid Agung al A’dzam dengan metoda yang unik yang belum pernah dilakukan oleh para pendahulunya. Selain kitab hadist Bukhari, beliau juga mengajar Mukhtashar Khalil kitab pegangan fikih madzhab Maliki dan kitab Al Fiyah Ibn Malik sebagai panduan ilmu bahasa arab atau nahwu dan sharaf di masjid tersebut.

Dan beliau banyak mengisi pengajian pengajian di beberapa masjid lainnya dengan mengetengahkan materi seputar Sirah atau biografi Nabi Muhammad SAW dan materi pelajaran lainnya.

Kemudian beliau mendirikan zawiyah di Tangier dan memakmurkannya dengan mengisi kajian tafsir Al-Qur’an. Beliau juga dikenal sebagai seorang hafidz dan dianugerahi memori yang sangat kuat, arahan dan didikannya melahirkan banyak para ulama, majelis ilmunya bagaikan raudah atau taman ilmu.

Beliau hanya memberikan thariqah kepada orang-orang yang mengunjunginya di rumahnya dan meminta ijazah berdasarkan keinginannya sendiri, namun demikian, meskipun ia tidak menyebarkan thariqahnya ke luar daerah, pengikut atau murid murid sangat banyak sekali terutama di kota Fez, Salé, Rabat, Casablanca, Zair Grand Palace, Larache, Tetouan, Angers, Bani Said dan ghumara.

Bahkan jumlah pengikut atau murid thariqah beliau di wilayah Tangeir lebih dari separuh jumlah penduduknya. Beliau adalah sosok syekh murabbi tertinggi yang dapat membimbing seorang murid untuk berkhalwat hingga mencapai Futuh dalam waktu yang singkat.

Lanjut ke bagian 2

PBNU: Jozhep Paul Zhang Hina Agama, Polisi Harus Bertindak



Jakarta, Hebohnya video pengakuan Jozeph Paul Zhang sebagai nabi ke-26 membuat geram Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tayangan video Jozeph yang menyinggung umat Islam itu terekam saat diskusi daring yang diunggah di akun YouTube pribadinya.


Kegeraman itu diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Helmy Faishal Zaini, yang dengan tegas menyebut tindakan Jozeph Paul Zhang itu merupakan bentuk penghinaan terhadap umat Islam.


Atas alasan itu, Helmy Faishal meminta kepada aparat kepolisian untuk bergerak cepat agar kasus ini tidak memprovokasi masyarakat dan menjadi besar.


“Kita percayakan kepada polisi dalam hal ini kita meminta untuk segera dan menangkap karena jelas dalam video tayangan itu menyebarkan kebencian, dan sudah melakukan kategori penghinaan,” ujar Faishal kepada wartawan, Sabtu (17/4) malam.


Helmy Faishal bahkan mengaku sudah melakukan komunikasi informal dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar segera menindak Jozeph Paul Zhang.


“Saya sudah secara informal sudah menyampaikannya ke Kapolri, mudah-mudahan segera ditindak ya,” tuturnya.

HUBUNGI KAMI MELALUI WHATSAPP

Contact Us
JATMAN DKI
+62 812-1255-9877
DKI Jakarta, Indonesia